Yang akan menembak dikatakan seorang pejuang. Pejuang akan mempersiapkan aksinya dan program tv tersebut seakan-akan mendramatisir perjuangan mereka dan dibuat seolah-olah yang mereka kerjakan dan persiapkan adalah hal yang sangat romantis.
Saya menghargai perjuangan mereka untuk menyatakan cinta namun apakah cinta hanya sekedar perjuangan yang kasat mata? Adakah jaminan dari para pejuang apabila diterima mampu melanjutkan hubungannya tanpa perjuangan?
Menurut saya, cinta bukan butuh perjuangan bahkan perjuangan macam mereka di acara itu namun cukup dinikmati tanpa menyiksa dan menyita pikiran. Saat itu menyita dan menyiksa pikiranmu berarti itu bukan cinta.
Cinta bukan sekedar romantis. Bahkan bukan romantis yang berujung nafsu makhluk hidup untuk berhubunngan seks. Romantis hanya estetika angin kentut yang datang sebentar dan langsung berlalu. Sama halnya menyelesaikan 'pertandingan' seksual yang sudah mencapai klimaks bahkan berkali kali dan akhirnya bosan. Cinta tidak perlu ditunjukkan namun dilakukan tanpa pembuktian.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada"-Sapardi Djoko Damono-