Tidak sedikit teman saya yang berkomentar ketika melihat seorang anak kecil menggunakan barang elektronik seperti telepon seluler, laptop, atau tab. "Orang tuanya itu gmn ya? Kok ga mendidik anaknya dengan baik.." "Liat tu,do.. kecil-kecil uda pake tab..iPad pula!.." atau bahkan komentar seperti ini, "hmm.. gimana kalau kita ikutin anak ini..pas lewat tempat sepi kita rampok.."
Entah siapa yang bertanggung jawab atas ini. Penemu, media, orang tua, bahkan anak kecil itu sendiri tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Tuhan pun tidak mau disalahkan..Hahahaha.
Perubahan watak mereka kedepan nanti tidak ada yang tahu. Bagaimana nasib generasi yang akan datang ketika dilanjutkan oleh mereka...tidak ada yang bisa tahu. Hanya menerka dan sebagian besar dari teman-temanku menanggapi dengan jawaban yang pesimis akan menjadi lebih buruk.
Ketika saya sedikit merenungkan kejadian tersebut, teringat ketika masa kecil. Saat itu orang tua saya selalu mengomel dengan pernyataan-pernyataan berikut, "kamu ini enak jaman sekarang, dulu..waktu mau berangkat ke kampus, harus jalan kaki 10 kilo! Sekarang sudah ada angkot, becak, ojek.. kan enak! toh ga mahal!.."dulu, ga ada yang namanya kulkas..kulkas itu mahal..kamu ga ada minuman dingin sehari aja uda ngeluh.."
Menurutku tidak jauh berbeda komentar teman-teman saya dan omelan orang tua. Membandingkan kejadian dulu dengan sekarang. Perkembangan teknologi mempengaruhi peradaban. Pernyataan ini adalah jawaban pasti menurutku ketika muncul fakta-fakta yang terjadi salah satunya seperti contoh tadi.
Kita tidak bisa memaksakan keadaan yang sudah terjadi sekarang untuk diubah dengan keadaan ketika kita masih anak-anak. Mungkin yang bisa dilakukan hanya memperhatikan dan memberikan nilai-nilai yang baik serta mewariskannya untuk generasi selanjutnya.
Proses dialektika menjadikan manusia lekas terganggu dengan obsesi sesuai keinginan ideal palsunya untuk mencari kepuasan semata yang belum tentu sejati.
Welcome
Kocok kembali otakmu di blog ini.
Januari 31, 2013
Januari 27, 2013
Anak Kecil Jalan Kepanduan
Setelah menyelesaikan tugas di Jakarta, saya menghabiskan malam terakhir di sana untuk berjalan-jalan sekedar mengetahui kehidupan malam (baca : prostitusi) yang ada di sini bersama sahabat terbaik saya. Ini adalah kebiasaan yang selalu dilakukan ketika kami berjumpa..hanya untuk membunuh waktu malam..hahaha..
Adalah sebuah tempat yang mungkin tidak asing bagi warga sekitar Jakarta Utara yaitu Kalijodo. Tepatnya di Jalan Kepanduan. Suatu jalan yang tidak lebar. Di salah satu sisi ada sungai dan sepanjang jalan itu banyak pub atau cafe berjejer dan tidak sedikit kupu-kupu malam duduk atau berdiri di depannya.
Kami memutuskan untuk memarkir motor dan iseng untuk masuk ke dalam gang-gang sempit. Ketika kutelusuri ada hal unik yang kutemui. Ada sebuah Gereja dan Musola di situ. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Di pinggir salah satu wisma ada seorang anak laki-laki umurnya sekitar 10 tahun sedang jongkok sambil melihat kiri kanannya. Anak itu kemudian bangkit dan berbicara kepada seorang perempuan .Perempuan itu marah lalu dengan gerakan terlihat seperti mengusir untuk menjauh darinya. Anak itu kembali jongkok dan menunduk sambil menangis.
Keluar dari gang-gang sempit saya melewati jalan utama. Ada bayi yang digendong oleh seorang laki-laki dan mengajak bercanda bersama perempuan-perempuan. Setelah setengah jam berkeliling kami memutuskan untuk pulang dan segera menuju tempat parkir di ujung jalan. Dalam perjalanan saya kembali melihat anak balita perempuan memakai celana dalam dan kaos lusuh bermain dengan salah satu pemuda yang mungkin adalah salah satu makelar .
Saya menghargai pekerjaan mereka. Entah itu makelar atau bahkan kupu-kupu malam. Namun, bagaimana nasib masa depan anak-anak dan bayi tadi yang telah melihat betapa kerasnya kehidupan ini. Semoga saja mereka tidak menelan mentah-mentah apa yang dilihatnya dan berusaha memiliki pekerjaan yang lebih layak.
Adalah sebuah tempat yang mungkin tidak asing bagi warga sekitar Jakarta Utara yaitu Kalijodo. Tepatnya di Jalan Kepanduan. Suatu jalan yang tidak lebar. Di salah satu sisi ada sungai dan sepanjang jalan itu banyak pub atau cafe berjejer dan tidak sedikit kupu-kupu malam duduk atau berdiri di depannya.
Kami memutuskan untuk memarkir motor dan iseng untuk masuk ke dalam gang-gang sempit. Ketika kutelusuri ada hal unik yang kutemui. Ada sebuah Gereja dan Musola di situ. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Di pinggir salah satu wisma ada seorang anak laki-laki umurnya sekitar 10 tahun sedang jongkok sambil melihat kiri kanannya. Anak itu kemudian bangkit dan berbicara kepada seorang perempuan .Perempuan itu marah lalu dengan gerakan terlihat seperti mengusir untuk menjauh darinya. Anak itu kembali jongkok dan menunduk sambil menangis.
Keluar dari gang-gang sempit saya melewati jalan utama. Ada bayi yang digendong oleh seorang laki-laki dan mengajak bercanda bersama perempuan-perempuan. Setelah setengah jam berkeliling kami memutuskan untuk pulang dan segera menuju tempat parkir di ujung jalan. Dalam perjalanan saya kembali melihat anak balita perempuan memakai celana dalam dan kaos lusuh bermain dengan salah satu pemuda yang mungkin adalah salah satu makelar .
Saya menghargai pekerjaan mereka. Entah itu makelar atau bahkan kupu-kupu malam. Namun, bagaimana nasib masa depan anak-anak dan bayi tadi yang telah melihat betapa kerasnya kehidupan ini. Semoga saja mereka tidak menelan mentah-mentah apa yang dilihatnya dan berusaha memiliki pekerjaan yang lebih layak.
Januari 10, 2013
Menghirup nafas dibalik lorong sempit
(mohon dimaklumi kamera HP yang saya gunakan dibawah standar kekinian)
bagi teman2 STETSA, SMA3, dan SMA1 Malang yang suka berkeliling mencari makan yang murah pasti tidak asing dengan foto yang ku-upload.
Pecel Harmoni (PH)..entah siapa yang memberi nama ini. Bulan Desember lalu saya menghampiri tempat ini sekedar untuk bernostalgia. Tidak banyak perubahan sejak pertama kali saya mengenal tempat ini.
Perubahan yang terlihat jelas adalah ibu itu telah berkacamata. Suami yang biasa mendampinginya tidak nampak saat saya ke sana.
Masih terekam di otak saya... tiap pukul 9 pagi , ia bersama suaminya berjalan berdua menjinjing tas berisi bahan makanan dan menuju warung kecilnya di lorong sempit.
Pada saat pukul 1 siang, banyak siswa datang dan tidak sedikit yang berdiri atau duduk di lorong. Makanan yang menjadi favorit mereka tidak lain tidak bukan adalah pecel sederhana dengan gorengan menjes atau dadar jagung. Harganya cukup murah..3500 rupiah (sekarang 4000). Mereka rela menunggu di lorong, gerah karena panas dan susah bernafas karena cukup banyak siswa di situ dan tidak sedikit yang merokok.
Makanan yang disajikan tidak bisa dikatakan sekelas restoran top hasil masakan chef porfesional dan handal. Namun pelayanan dari ibu penjual lah yang membuat nyaman. Maybe that's why it called Pecel Harmoni.. Ada harmoni antara kesederhanaan dan pelayanan yang ramah dan murah senyum dari pemilik warung.
Seburuk apapun fasilitas atau sikon (situasi dan kondisi) yang dihadapi, ketika ada pelayanan yang ramah dan berusaha untuk tidak menyalahkan keadaan, pasti hasil yang didapatkan mempunyai kepuasan tersendiri. Berlaku untuk pelayanan publik apapun, di manapun, dan kapanpun.
Yaah... semoga manusia bisa menghargai manusia lain layaknya manusia juga.
bagi teman2 STETSA, SMA3, dan SMA1 Malang yang suka berkeliling mencari makan yang murah pasti tidak asing dengan foto yang ku-upload.
Pecel Harmoni (PH)..entah siapa yang memberi nama ini. Bulan Desember lalu saya menghampiri tempat ini sekedar untuk bernostalgia. Tidak banyak perubahan sejak pertama kali saya mengenal tempat ini.
Perubahan yang terlihat jelas adalah ibu itu telah berkacamata. Suami yang biasa mendampinginya tidak nampak saat saya ke sana.
Masih terekam di otak saya... tiap pukul 9 pagi , ia bersama suaminya berjalan berdua menjinjing tas berisi bahan makanan dan menuju warung kecilnya di lorong sempit.
Pada saat pukul 1 siang, banyak siswa datang dan tidak sedikit yang berdiri atau duduk di lorong. Makanan yang menjadi favorit mereka tidak lain tidak bukan adalah pecel sederhana dengan gorengan menjes atau dadar jagung. Harganya cukup murah..3500 rupiah (sekarang 4000). Mereka rela menunggu di lorong, gerah karena panas dan susah bernafas karena cukup banyak siswa di situ dan tidak sedikit yang merokok.
Makanan yang disajikan tidak bisa dikatakan sekelas restoran top hasil masakan chef porfesional dan handal. Namun pelayanan dari ibu penjual lah yang membuat nyaman. Maybe that's why it called Pecel Harmoni.. Ada harmoni antara kesederhanaan dan pelayanan yang ramah dan murah senyum dari pemilik warung.
Seburuk apapun fasilitas atau sikon (situasi dan kondisi) yang dihadapi, ketika ada pelayanan yang ramah dan berusaha untuk tidak menyalahkan keadaan, pasti hasil yang didapatkan mempunyai kepuasan tersendiri. Berlaku untuk pelayanan publik apapun, di manapun, dan kapanpun.
Yaah... semoga manusia bisa menghargai manusia lain layaknya manusia juga.
Januari 09, 2013
Sebatang Rokok
Cukup banyak kisah mengenai pengalaman sahabat saya tentang rokok. Hampir tiap update status facebooknya selalu berkaitan dengan rokok dan dibahasakan dengan kalimat yang puitis.. Ia menganggap sahabatnya adalah sebatang rokok atau mungkin pasangan hidupnya adalah rokok. Sempat saya berpikir sahabatku ini agak sedikit aneh, norak, entahlah..
Kali ini saya harus mengakui bahwa rokok menyimpan sejuta cerita bagi penikmatnya. Ini adalah pengalaman pribadiku tentang rokok. Saya mempunyai seorang sahabat yang membuat saya memahami kebersamaan dibalik rokok. Kami berdua seorganisasi di perhimpunan pers mahasiswa dan perokok aktif.
Tahun lalu, minggu ketiga bulan September 2012 setelah momen musyawarah kerja nasional yang sangat menguras fisik dan mental, kami duduk bersama dengan teman-teman lain di salah satu warung kopi pinggiran tak jauh dari tempat kami musyawarah. Hari itu aku sudah tidak punya cukup banyak uang untuk menikmati minuman yang menyegarkan seperti es teh atau es jeruk. Di dompektu hanya ada 22.000 rupiah dan pas untuk ongkos bus ekonomi dan bayar sewa penitipan motor yang kutinggalkan di dekat terminal.
Menjelang pulang menuju terminal Purabaya, ia memberikan separuh isi dari bungkus rokok yang baru saja dibelinya dengan korek gas. "Ini separuh buatmu.. buat ngisi waktu nganggur..sama koreknya sekalian. Korekmu ilang to?!" ujarnya.
Sesampainya di terminal ternyata bus ekonomi tujuan Malang sudah tidak ada. Waktu itu sekitar pukul 10 malam dan bus tujuan Malang beroperasi kembali pukul 02:15 WIB untuk Patas dan ekonomi baru ada pukul 03:00 WIB. saya pasrah menunggu di terminal sambil ditemani satu per satu rokok hingga jam 1 dan tertidur sampai dibangunkan oleh orang disekitar saya.
3 hari yang lalu kesempatanku membalas budi dengan sebungkus rokok dan kuantar hingga ia naik bus dan bus tersebut benar-benar berangkat keluar dari terminal Arjosari.
Saya menyebutnya perspektif persahabatan. Perspektif yang selalu dibuang jauh-jauh oleh perokok pasif (yang ngakunya) pendukung kesehatan. Suatu saat saya yakin merokok dari perspektif persahabatan akan lebih diperhatikan untuk tujuan gerakan yang massive dan positif lepas dari akibat negatifnya. Sampoerna Hijau pernah mengangkat hal tersebut. Iklannya tersirat ada rokok Sampoerna Hijau dibalik persahabatan mereka.
Mungkin sebuah gerakan revolusioner untuk bangsa ini kedepannya diawali dari sebatang rokok...bisa saja..
Kali ini saya harus mengakui bahwa rokok menyimpan sejuta cerita bagi penikmatnya. Ini adalah pengalaman pribadiku tentang rokok. Saya mempunyai seorang sahabat yang membuat saya memahami kebersamaan dibalik rokok. Kami berdua seorganisasi di perhimpunan pers mahasiswa dan perokok aktif.
Tahun lalu, minggu ketiga bulan September 2012 setelah momen musyawarah kerja nasional yang sangat menguras fisik dan mental, kami duduk bersama dengan teman-teman lain di salah satu warung kopi pinggiran tak jauh dari tempat kami musyawarah. Hari itu aku sudah tidak punya cukup banyak uang untuk menikmati minuman yang menyegarkan seperti es teh atau es jeruk. Di dompektu hanya ada 22.000 rupiah dan pas untuk ongkos bus ekonomi dan bayar sewa penitipan motor yang kutinggalkan di dekat terminal.
Menjelang pulang menuju terminal Purabaya, ia memberikan separuh isi dari bungkus rokok yang baru saja dibelinya dengan korek gas. "Ini separuh buatmu.. buat ngisi waktu nganggur..sama koreknya sekalian. Korekmu ilang to?!" ujarnya.
Sesampainya di terminal ternyata bus ekonomi tujuan Malang sudah tidak ada. Waktu itu sekitar pukul 10 malam dan bus tujuan Malang beroperasi kembali pukul 02:15 WIB untuk Patas dan ekonomi baru ada pukul 03:00 WIB. saya pasrah menunggu di terminal sambil ditemani satu per satu rokok hingga jam 1 dan tertidur sampai dibangunkan oleh orang disekitar saya.
3 hari yang lalu kesempatanku membalas budi dengan sebungkus rokok dan kuantar hingga ia naik bus dan bus tersebut benar-benar berangkat keluar dari terminal Arjosari.
Saya menyebutnya perspektif persahabatan. Perspektif yang selalu dibuang jauh-jauh oleh perokok pasif (yang ngakunya) pendukung kesehatan. Suatu saat saya yakin merokok dari perspektif persahabatan akan lebih diperhatikan untuk tujuan gerakan yang massive dan positif lepas dari akibat negatifnya. Sampoerna Hijau pernah mengangkat hal tersebut. Iklannya tersirat ada rokok Sampoerna Hijau dibalik persahabatan mereka.
Mungkin sebuah gerakan revolusioner untuk bangsa ini kedepannya diawali dari sebatang rokok...bisa saja..
Januari 07, 2013
Cinta Terhadap Lawan Jenis
Saya kembali membaca buku kecil karangan teman saya
yang kukenal sejak SMA lewat situs jejaring sosial Friendster. Judulnya,
Cinta Bukan Cokelat. Beliau adalah dosen filsafat di UI. Kalau ada
kesempatan untuk bertemu lagi dengannya saya ingin berdiskusi banyak hal
tentang cinta yang perlu . Entah bagaimana kabarnya sejak menikah
beberapa tahun lalu.
Cukup variatif pernyataan beberapa filsuf di buku itu namun belum menjawab pertanyaan saya tentang perlukah seorang laki laki mencintai perempuan (untuk dijadikan rekan hidupnya).
Kemarin lusa hingga subuh saya berdiskusi dan sempat berdebat dengan dua teman saya mengenai ini berkaca pada biksu, biarawan Katolik dan pengembara, dan lain-lain yang hidup untuk tidak menikah, terlepas dari masalah mereka yang mungkin secara diam-diam pernah jatuh cinta, pernah trauma akan cinta, atau bahkan lesbian atau gay.
Erich Fromm punya pendapat bahwa cinta itu memerdekakan dan suatu pembebasan. Jauh sebelum itu ada pemikiran Plato yang dapat disimpulkan manusia sudah memiliki belahan jiawanya masing-masing. Tidak berbeda dengan mitos Alkitab tentang Hawa yanng diciptakan dari tulang rusuk Adam.
Namun hingga saat ini saya masih berpikir dapatkah manusia mampu menggantikan cinta yang sudah menjadi kodrat manusia untuk saling memiliki antara dua jenis kelamin yang berbeda? Menurutku, mungkin bisa saja ia dapat merekayasanya dengan cinta-cinta yang lain yang setara dengan cinta terhadap lawan jenis.
Lewat pemikiran Plato, dan pernyataan yang menganggu saya maka jadi seperti ini,
A = saya
B = pasangan saya
ibarat A dan B jika disatukan adalah persegi. saya adalah puzzle separuh bidang persegi.. dan B adalah separuhnya.
saya bisa memperoleh B melalui C, D, E, F... C, D, E, F adalah persegi-persegi kecil yang jika digabung menjadi B. C+D+E+F = B. Mungkin C adalah cinta terhadap masyarakat, D kasih sayang sahabat, E kasih sayang orang tua, F lain lain..
A+B = cinta terhadap lawan jenis.
tetapi ditengah diskusi panjang muncul antitesis bahwa cinta terhadap lawan jenis adalah cinta khusus dan berbeda dengan cinta yang lain.
Hingga akhir dialektika sementara, kami hanya mendapatkan sintesis bahwa membiarkan proses itu sendiri yang menjawab akan menjadi seperti apa cintamu itu tumbuh dan berkembang...
Cukup variatif pernyataan beberapa filsuf di buku itu namun belum menjawab pertanyaan saya tentang perlukah seorang laki laki mencintai perempuan (untuk dijadikan rekan hidupnya).
Kemarin lusa hingga subuh saya berdiskusi dan sempat berdebat dengan dua teman saya mengenai ini berkaca pada biksu, biarawan Katolik dan pengembara, dan lain-lain yang hidup untuk tidak menikah, terlepas dari masalah mereka yang mungkin secara diam-diam pernah jatuh cinta, pernah trauma akan cinta, atau bahkan lesbian atau gay.
Erich Fromm punya pendapat bahwa cinta itu memerdekakan dan suatu pembebasan. Jauh sebelum itu ada pemikiran Plato yang dapat disimpulkan manusia sudah memiliki belahan jiawanya masing-masing. Tidak berbeda dengan mitos Alkitab tentang Hawa yanng diciptakan dari tulang rusuk Adam.
Namun hingga saat ini saya masih berpikir dapatkah manusia mampu menggantikan cinta yang sudah menjadi kodrat manusia untuk saling memiliki antara dua jenis kelamin yang berbeda? Menurutku, mungkin bisa saja ia dapat merekayasanya dengan cinta-cinta yang lain yang setara dengan cinta terhadap lawan jenis.
Lewat pemikiran Plato, dan pernyataan yang menganggu saya maka jadi seperti ini,
A = saya
B = pasangan saya
ibarat A dan B jika disatukan adalah persegi. saya adalah puzzle separuh bidang persegi.. dan B adalah separuhnya.
saya bisa memperoleh B melalui C, D, E, F... C, D, E, F adalah persegi-persegi kecil yang jika digabung menjadi B. C+D+E+F = B. Mungkin C adalah cinta terhadap masyarakat, D kasih sayang sahabat, E kasih sayang orang tua, F lain lain..
A+B = cinta terhadap lawan jenis.
tetapi ditengah diskusi panjang muncul antitesis bahwa cinta terhadap lawan jenis adalah cinta khusus dan berbeda dengan cinta yang lain.
Hingga akhir dialektika sementara, kami hanya mendapatkan sintesis bahwa membiarkan proses itu sendiri yang menjawab akan menjadi seperti apa cintamu itu tumbuh dan berkembang...
Januari 04, 2013
Pesan lewat pasir pantai
gambar ga penting...
memang.
saya gambar ini di pasir pantai..
agak narsis memang..nulis nama sendiri di pasir pantai.
lumayan lah.. dari pada narik garis dan nulis "I love bla bla.." atau " I wuz here"..lebih norak lagi.
menggambar ini mengabiskan waktu 15 menitan dan dua menit setelah kutinggalkan tersapu ombak berbuih..
terima kasih..bukan kepada penguasa laut selatan.. tapi kepada air yang menari bergulung.
terima kasih karena salamku sudah disampaikan kepadanya. Hey! Aku memberi salam padamu sambil duduk di pinggir pantai dipagi hari subuh atau saat langit lembayung seperti permintaanmu. Saya masih ingat katanya.. "Laut bukan pemisah daratan,kawan. Ombak ganas tu uluran tangan supaya lu ingat pulang.. dia menari sambil bernyanyi bawa pesan lewat irama hentakan. Kasitau lewat ini sa,do..tulis sa di pasir..sonde nyambung deng lu pung pesan ju sonde jadi soal..air yang jd pnerjemah.. unik to?!"
hal konyol..stupid thing..
sama sekali ga romantis dan ga keren..umum banget! apanya yang unik?!
biasanya saya menulis kata "hallo" "hey" nama pantai, tanggal saya menulis,...selain nulis nama sendiri..bahkan "SOS" juga pernah.. hehehe..
ritual konyol yang biasa kulakukan tiap menjumpai pantai hampir 6 tahun ini..
Laut lepas bagiku adalah kebebasan.. ombak besar yang bergulung itu layaknya napi yang divonis 50 tahun dipenjara dan baru selesai masa hukumannya..
Langit sorenya lebih indah dari warna pelangi.
Sayangnya, makhluk hidup yang paling unggul di bumi belum bisa sebebas laut lepas. hahaha..
Langganan:
Postingan (Atom)

