Welcome

Kocok kembali otakmu di blog ini.

November 26, 2012

Siapa Tumbal Untukmu?

Saling berkorban menurutku bukan nilai yang baik. Apa yang sudah diajarkan sejak kecil hingga kini secara tidak langsung mengajarkan manusia pada kesia-siaan. Jika berpikir pragmatis, sikap saling berkorban yang dilaksanakan selalu berujung pada imbalan. Pengorbanan itu punya harga yang "mahal".

Hutang budi. Ya, kata-kata inilah yang selalu muncul dalam perkataan atau minimal dalam pikirannya sendiri ketika manusia memperoleh pertolongan dari orang lain. ".... Terima kasih, pertolonganmu akan selalu kuingat..." atau  ".... Hmm..kamu baik sekali mau menolongku. Suatu saat pasti kubalas dengan....." Inilah kesia-siaan yang kumaksud.

Muncul kesimpulan sementara yaitu menolong manusia bukan untuk menyelamatkan namun hanya untuk menambah bebannya kelak. Mungkin saja si penolong membantu dengan tulus ikhlas. Bagi si penerima? Menerima dengan senang hati ketika sangat terdesak namun setelah menerima dan menikmati pertolongannya bisa saja timbul rasa sesal karena berpikir bagaimana membalas pertolongannya. Bersyukurlah ketika si penerima membalas budi dengan keadaannya yang mampu untuk membalas. Apabila tidak mampu?

Alam memberikan hasil buminya dengan oksigen untuk bernafas, tumbuhan dan hewan, hasil tambang dan lain sebagainya. Manusia yang memelihara manusia yang telah dilahirkan dan dbesarkannya dengan uang hasil keringatnya. Guru yang menerima gaji tidak seberapa untuk mencerdaskanmu. Sampah plastik bagi pemulung, Penemu alat musik yang bisa menghidupkan seniman musik bahkan pengamen jalanan. sudahkah kalian membalas budinya? Itu sia-sia,pikirku.

Bagaimana dengan dewa? Menurut salah satu kepercayaan yang menyembah dewa, cara membalas kebaikan dewa adalah dengan selalu memujanya dan memberikan persembahan atau tumbal agar sang dewa hidup kekal dan memberkati manusia. Bagaimana dengan Tuhan? Apabila kalian mempercayai Tuhan itu memang ada. Hal apa yang setara untuk dapat membalasNya? Apakah harus memiliki kuasa yang sama denganNya untuk membalas apa yang sudah dilakukanNya? (berpikir lepas dari dogma agama)

Mereka semua yang kusebutkan diatas mempunyai pengorbanan yang "mahal" dan wajib dibayar. Tuhan sekalipun menuntut manusia untuk menjadi milikNya meskipun telah menjadi tumbal..

November 08, 2012

Selamat Pagi!

Kita bertemu diderunya air menari dengan hentakannya
menyanyikan lagu apa kabarmu.
Matahari menyengatmu terbakar
tapi tak kering karena peluh.
Perihnya mata ini memerah oleh garam kesakitan
berganti sajian nikmat keluh kesah kita.

Aku belum lelah, sobat
Sejak waktu itu kamu ada bersamaku
dari ujung kusendengkan kepalaku memandang buih putih.
di koral pahatanku yang terlarang

Kemarin lusa dan tahun belum berganti,
aku berselingkuh pada nyamannya pasir
hingga pasang menyeret melenyapkan.
sayup-sayup gelak mendekat

Lembayung tadi sudah berlalu.
mercusuar meréka lagi jejak jumpa.
tidak terhapus pijakanmu, rekanku.
Kuselimuti palma.. hmm..ini penghargaanku.

Pagi ini, batas tanah lembab meramu ukiran asa.kita
Akasia merah muda dan putih sudah berembun
yaah setidaknya bukan kembang berduri laah..

Sahabatku, kelak angin terlampau liar berhembus
nyanyian terdengar sedikit berbeda dari sebelumnya
resonansi musim berikut, menapaklah.
saling menatap bukan meratapi keangkuhan alam ini.


untuk sahabatku...

mari berdebat, bertengkar dan menguatkan lagi seakan kita adalah mahasiswa baru yang suka berbuat bodoh dan konyol dengan idealis kita.

SELAMAT PAGI!!

Agustus 20, 2012

Tuhan bukanlah Pelaku

Saya tidak akan membahas Tuhan dari sudut pandang teologis yang sebenarnya bercampuran dogma. Dogma adalah suatu pernyataan atau ajaran yang harus dibenarkan dan dianggap paling benar dan tidak boleh diragukan. Dogma berhubungan dengan iman. Iman sendiri artinya keyakinan penuh akan Tuhan dan segala kuasaNya. Jadi,bila meragukan dogma maka dianggap berdosa. Terkadang perlu melepas "jubah" agama untuk berpikir dari sisi lain.

Agama-agama besar (dalam kuantitas pemeluk agamanya) yang ada di dunia mengajarkan dogma agamanya melalui Tuhan Sang Penyelamat sebagai subjek yang merestui keyakinannya sebagai keyakinan yang satu-satunya dipilih. Banyak orang ditanamkan doktrin sejak kecil bahwa Tuhan hanya berpihak pada agama x. Tuhan hanya menyelamatkan manusia yang beragama x menuju alam kesempurnaan atau biasa disebut surga.

Pada dasarnya agama adalah produk politik kuno yang masih eksis. Kepentingan agama untuk menjaga jumlah anggota umatnya sangat dijaga bahkan dibuatkan dogma seperti, "..agama x lah yang menyelamatkan hidupmu kelak.." atau melalui tokoh agamanya.. "..kita harus percaya dia adalah yang diutus Tuhan untuk manusia.." dan lain sebagainya.Bahkan kalimat-kalimat tadi diklaim itu (entah benar atau tidak) adalah yang diucapkan Tuhan.

Terlepas dari agama masing-masing yang diajarkan. Pernahkah kita berpikir agama apa yang dibela Tuhan? Sebodoh itu kah Tuhan sampai memunculkan bermacam-macam agama? Lalu apa tujuanNya membiarkan hal itu terjadi?

Ada seorang kakek tua hidup di pegunungan daerah perkampungan kabupaten Malang yang tidak percaya Tuhan pernah memberikan sebuah pemikiran dan berkata kepada saya, "Jangan pernah mencari Tuhan! Tuhan juga tidak beragama. Tuhan bukan siapa-siapa. Saya mempercayai Tuhan ketika saya menghargai alam dan manusia karena hidup kita saling bergantung pada alam dan manusia."

Pernyataan yang sederhana dari kakek itu membuat saya sempat tertawa karena sempat sejenak berpikir, seandainya semua masyarakat Indonesia mempunyai pemikiran yang sama dan mau menerapkan hal itu, tentunya Indonesia bebas dari masalah fanatik dan konflik antar agama yang sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa.

Perlu dicermati kembali, sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa dan bukan Tuhan Yang Maha Esa. Ketuhanan berarti mengarah ke sifat. Kalau agama meyakini Tuhan itu Maha baik, maka lakukanlah kebaikan, jika Tuhan itu Maha Pemurah, murah hatilah terhadap sesama manusia dan lain sebagainya. SifatNya lah yang Esa. Tidak peduli bagaimanapun konsep Tuhan yang saling berbeda tiap agama dan kepercayaan yang dianut.


Agustus 19, 2012

Kemenangan Berbeda

Hari ini, jalan-jalan iseng mengelilingi kota Malang tidak sia-sia. Cukup banyak kisah yang saya dapat dari masyarakat kota ini. Sempat terpikir seandainya saya membawa kamera pasti sudah di-"upload" bersama tulisan ini. Namun jangankan meng-"upload", untuk memotret saja aku tidak tega.
00:07 Museum Brawijaya Malang
Banyak remaja tanggung membakar uang orang tuanya. Tepat di depan mereka melintas seorang bapak tua mengumpulkan satu per satu sampah untuk mencari imbalan yang tidak seberapa. 
01:15 Masjid Jami Alun-alun Kota Malang
Mungkin saat matahari baru terbit nanti orang-orang ingin segera ke sana mencari tempat di dalam ruang yang nyaman untuk beribadah. Sayangnya mereka kalah "pagi".. para pengemis sudah di sana berebut lahan mencari nafkah.
 
01:52 depan Aula Skodam V (dekat tugu kota Malang)
Tidak sedikit tukang becak tidur di dalam "kontrakan" -nya yang dingin. Mereka harus sabar menunggu untuk bisa mudik hari raya tahun depan merasakan kehangatan keluarga.
Bersyukurlah, kemenangan yang dibayangkan orang-orang pada umumnya tidak sama dengan masyarakat minoritas (yang sebenarnya mayoritas) seperti mereka. Mereka juga ingin kemenangan seperti milik kalian. Maukah kalian merasakan kemenangan mereka?
Seandainya bisa memilih kemenangan..

Pages