Welcome

Kocok kembali otakmu di blog ini.

Oktober 13, 2013

Menghirup Nafas dibalik Lorong Sempit (2)

Lebih dari 6 bulan lalu saya tidak mengunjungi tempat itu. Masih sama dengan keadaan terakhir mendatanginya atau bahkan tidak ada perubahan. Mungkin hanya berubah pada pengunjungnya. Dulu saya masih berseragam SMA pada saat mengunjunginya dan kini sudah berpakaian bebas.

Kemarin kereta yang saya tumpangi terlambat sampai di stasiun Malang. Pada tiket tertera tiba pukul 9:46 pagi namun terlambat hampir 3 jam. Pukul 12:25 saya baru menginjakkan kaki di stasiun Malang dalam keadaan lapar. Lebih dari 15 jam tidak ada satupun makanan masuk ke mulut saya. Terakhir makanan yang saya konsumsi adalah nasi goreng 5-6 sendok makan serta lauk tambahannya yaitu irisan mentimun dan satu telur mata sapi. Total harga makanan itu Rp. 18.000,00. Cukup menguras dompet namun tidak mengenyangkan bagi saya.

Saya memutuskan makan di Pecel Harmoni setelah melewati gerbang keluar stasiun. Hanya tempat itu saja yang terpikirkan meskipun sepanjang jalan kaki menuju ke sana banyak sekali melewati warung makan. Bahkan salah satunya ada iklan terpampang bertuliskan "Nasi Putih + Sayur Asem Jakarta hanya 2000 saja!". Maaf, kali ini tekad saya tidak mungkin goyah karena tergiur iklan yang menurut saya berbau penipuan. Jangan sampai kejadian "Nasi Goreng 18 ribu" kembali terulang hanya karena gelap mata.

Sesampainya di sana saya disapa dengan senyuman ramah sepasang suami istri pemilik warung. Tanpa basa basi saya letakkan travel bag dan backpack di kursi pojok dan segera memesan nasi pecel,gorengan kecambah dan es teh. Makanan sudah sampai di depan meja langsung saya lahap hingga habis tak tersisa satu butir nasipun di piring. Lalu dengan wajah sedikit "ditekuk" memasang wajah menyambungkan alis kiri dan kanan ...entah apa itu istilahnya..saya memberi isyarat menggunakan tangan dengan maksud menanyakan es teh yang tak kunjung hadir. Minuman itu akhirnya tiba dan melegakan tenggorokan yang sejak tadi mengembang terasa sulit bernafas akibat nasi yang tak kunjung turun ke lambung.

Ibu tua pemilik warung kemudian membuka pembicaraan. "Mas, kenapa? Buru-buru ya? Maaf ya agak lama. Mau ke mana?" Kalimat yang diakhiri pertanyaan itu langsung membuat saya tersadar apa yang telah saya lakukan terhadap orang tua itu. Saya memesan makanan dengan berbicara cepat, tampak gusar menunggu makanan, makan dengan kesan rakus, dan terakhir memesan minuman dengan gaya yang sedikit kasar menurutku terhadapnya.

Saya menjawab, "Mboten,bu.. baru dari Jakarta. Ini saya mau pulang." "Oh, ya pantes.. kok kelihatannya lapar gitu." tanggapnya. Saya hanya merespon dengan senyuman sambil tertawa. Tak lama setelah itu datanglah 3 siswa SMA dan memesan makanan dengan kesan yang tak jauh berbeda dengan saya. Tanggapan ibu itu juga tak berbeda. Senyuman. Hanya senyuman.

Berikanlah kesan pertama yang baik pada saat berkenalan dengan orang lain. Kalimat nasehat tadi menurutku tidak ada salahnya. Namun kita juga perlu memperhatikan feedback setelah mendapatkan kesan pertama. Kebanyakan orang begitu mendapatkan kesan buruk di awal maka akan segera membalas dengan kesan buruk pula meskipun tidak secara langsung ditunjukkan. Belajar dari pengalaman kemarin, pertama, kesan pertama bukanlah penentu atau tolak ukur dari tanggapan yang akan diberikan kepada pemberi kesan. Kedua, apabila mendapat kesan buruk, kurang bijak jika segera menanggapi dengan buruk pula. Lebih baik mencermati dan mencari tahu mengapa ia bisa terkesan buruk. 

Tiga siswa SMA tadi masuk dengan keringat yang mengucur dan wajah tampak tidak segar. Sepertinya baru saja mengikuti kelas olahraga atau terjadi sesuatu yang menguras tenaganya. Mungkin itu yang dipikirkan pemilik warung saat melayani mereka bertiga.  



  

Maret 01, 2013

Dunia Ini Bukan Panggung Sandiwara

Puisi As You Like It karya Wiliam Shakespeare yang mempelopori istilah 'Dunia Ini Panggung Sandiwara' sebelum dipopulerkan di Indonesia oleh Nicky Astria. Pada puisinya, Shakespeare melalui karakter Jaques menggambarkan bahwa manusia hidup bersandiwara sesuai dengan tahap-tahap yang dilaluinya.. ketika masih bayi akan bertindak layaknya bayi, saat menjadi anak-anak akan berperilaku seperti anak-anak dan seterusnya.

Hampir mirip namun berbeda dengan versi lirik lagu yang dinyanyikan Nicky Astria. Setiap manusia sudah memiliki peranan masing-masing. Manusia ditakdirkan menjadi seorang yang dicintai, menjadi seorang yang munafik dan lain sebagainya. 

Betapa sempit pemikiran kita bila dunia ini adalah panggung sandiwara. Kita tidak akan bisa menjadi apapun yang kita inginkan dan tidak bisa mencicipi peran orang lain. Cenderung tidak peduli posisi orang lain maupun sudut pandangnya. Otomatis akan keasyikan bermain dan menghayati penuh peran yang sudah diberikan. 

Sesungguhnya manusia itu makhluk sosial yang bebas menentukan dirinya sendiri hendak menjadi apa atau siapa yang diinginkannya. Menjadi makhluk sosial tidak hanya berdasarkan hubungan saling membutuhkan namun juga saling memahami dan menghargai.

Tidak hanya menghargai yang baik oleh mata dan norma namun juga menghargai dan memahami perampok, pelacur, pembunuh, pemerkosa, pencuri dll karena mereka juga adalah manusia yang kebetulan mendapatkan peran kurang beruntung.

..karena semua orang berhak untuk mendapatkan peran yang diinginkan.


Februari 25, 2013

Cinta Bukan Sekedar Perjuangan dan Romantis

Saya ingat sekitar 10 tahun yang lalu ada program Reality Show yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta. Program itu menyorot anak muda yang ingin menyatakan cinta lewat berbagai aksi kreatif yang mereka lakukan untuk menyatakan cinta (nembak).

Yang akan menembak dikatakan seorang pejuang. Pejuang akan mempersiapkan aksinya dan program tv tersebut seakan-akan mendramatisir perjuangan mereka dan dibuat seolah-olah yang mereka kerjakan dan persiapkan adalah hal yang sangat romantis.

Saya menghargai perjuangan mereka untuk menyatakan cinta namun apakah cinta hanya sekedar perjuangan yang kasat mata? Adakah jaminan dari para pejuang apabila diterima mampu melanjutkan hubungannya tanpa perjuangan?

Menurut saya, cinta bukan butuh perjuangan bahkan perjuangan macam mereka di acara itu namun cukup dinikmati tanpa menyiksa dan menyita pikiran. Saat itu menyita dan menyiksa pikiranmu berarti itu bukan cinta.

Cinta bukan sekedar romantis. Bahkan bukan romantis yang berujung nafsu makhluk hidup untuk berhubunngan seks. Romantis hanya estetika angin kentut yang datang sebentar dan langsung berlalu. Sama halnya menyelesaikan 'pertandingan' seksual yang sudah mencapai klimaks bahkan berkali kali dan akhirnya bosan. Cinta tidak perlu ditunjukkan namun dilakukan tanpa pembuktian. 


"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada"-Sapardi Djoko Damono-


Januari 31, 2013

Lain Dulu Lain Sekarang

Tidak sedikit teman saya yang berkomentar ketika melihat seorang anak kecil menggunakan barang elektronik seperti telepon seluler, laptop, atau tab. "Orang tuanya itu gmn ya? Kok ga mendidik anaknya dengan baik.." "Liat tu,do.. kecil-kecil uda pake tab..iPad pula!.." atau bahkan komentar seperti ini, "hmm.. gimana kalau kita ikutin anak ini..pas lewat tempat sepi kita rampok.."

Entah siapa yang bertanggung jawab atas ini. Penemu, media, orang tua, bahkan anak kecil itu sendiri tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Tuhan pun tidak mau disalahkan..Hahahaha.

Perubahan watak mereka kedepan nanti tidak ada yang tahu. Bagaimana nasib generasi yang akan datang ketika dilanjutkan oleh mereka...tidak ada yang bisa tahu. Hanya menerka dan sebagian besar dari teman-temanku menanggapi dengan jawaban yang pesimis akan menjadi lebih buruk.

Ketika saya sedikit merenungkan kejadian tersebut, teringat ketika masa kecil. Saat itu orang tua saya selalu mengomel dengan pernyataan-pernyataan berikut, "kamu ini enak jaman sekarang, dulu..waktu mau berangkat ke kampus, harus jalan kaki 10 kilo! Sekarang sudah ada angkot, becak, ojek.. kan enak! toh ga mahal!.."dulu, ga ada yang namanya kulkas..kulkas itu mahal..kamu ga ada minuman dingin sehari aja uda ngeluh.."

Menurutku tidak jauh berbeda komentar teman-teman saya dan omelan orang tua. Membandingkan kejadian dulu dengan sekarang. Perkembangan teknologi mempengaruhi peradaban. Pernyataan ini adalah jawaban pasti menurutku ketika muncul fakta-fakta yang terjadi salah satunya seperti contoh tadi. 

Kita tidak bisa memaksakan keadaan yang sudah terjadi sekarang untuk diubah dengan keadaan ketika kita masih anak-anak. Mungkin yang bisa dilakukan hanya memperhatikan dan memberikan nilai-nilai yang baik serta mewariskannya untuk generasi selanjutnya.

Januari 27, 2013

Anak Kecil Jalan Kepanduan

Setelah menyelesaikan tugas di Jakarta, saya menghabiskan malam terakhir di sana untuk berjalan-jalan sekedar mengetahui kehidupan malam (baca : prostitusi) yang ada di sini bersama sahabat terbaik saya. Ini adalah kebiasaan yang selalu dilakukan ketika kami berjumpa..hanya untuk membunuh waktu malam..hahaha..

Adalah sebuah tempat yang mungkin tidak asing bagi warga sekitar Jakarta Utara yaitu Kalijodo. Tepatnya di Jalan Kepanduan. Suatu jalan yang tidak lebar. Di salah satu sisi ada sungai dan sepanjang jalan itu banyak pub atau cafe berjejer dan tidak sedikit kupu-kupu malam duduk atau berdiri di depannya.

Kami memutuskan untuk memarkir motor dan iseng untuk masuk ke dalam gang-gang sempit. Ketika kutelusuri ada hal unik yang kutemui. Ada sebuah Gereja dan Musola di situ. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Di pinggir salah satu wisma ada seorang anak laki-laki umurnya sekitar 10 tahun sedang jongkok sambil melihat kiri kanannya. Anak itu kemudian bangkit dan berbicara kepada seorang perempuan .Perempuan itu marah lalu dengan gerakan terlihat seperti mengusir untuk menjauh darinya. Anak itu kembali jongkok dan menunduk sambil menangis.

Keluar dari gang-gang sempit saya melewati jalan utama. Ada bayi yang digendong oleh seorang laki-laki dan mengajak bercanda bersama perempuan-perempuan. Setelah setengah jam berkeliling kami memutuskan untuk pulang dan segera menuju tempat parkir di ujung jalan. Dalam perjalanan saya kembali melihat anak balita perempuan memakai celana dalam dan kaos lusuh bermain dengan salah satu pemuda yang mungkin adalah salah satu makelar .

Saya menghargai pekerjaan mereka. Entah itu makelar atau bahkan kupu-kupu malam. Namun, bagaimana nasib masa depan anak-anak dan bayi tadi yang telah melihat betapa kerasnya kehidupan ini. Semoga saja mereka tidak menelan mentah-mentah apa yang dilihatnya dan berusaha memiliki pekerjaan yang lebih layak. 

Januari 10, 2013

Menghirup nafas dibalik lorong sempit

                                            (mohon dimaklumi kamera HP yang saya gunakan dibawah standar kekinian)

bagi teman2 STETSA, SMA3, dan SMA1 Malang yang suka berkeliling mencari makan yang murah pasti tidak asing dengan foto yang ku-upload.
 

Pecel Harmoni (PH)..entah siapa yang memberi nama ini. Bulan Desember lalu saya menghampiri tempat ini sekedar untuk bernostalgia. Tidak banyak perubahan sejak pertama kali saya mengenal tempat ini.
Perubahan yang terlihat jelas adalah ibu itu telah berkacamata. Suami yang biasa mendampinginya tidak nampak saat saya ke sana.

Masih terekam di otak saya... tiap pukul 9 pagi , ia bersama suaminya berjalan berdua menjinjing tas berisi bahan makanan dan menuju warung kecilnya di lorong sempit.

Pada saat pukul 1 siang, banyak siswa datang dan tidak sedikit yang berdiri atau duduk di lorong. Makanan  yang menjadi favorit mereka tidak lain tidak bukan adalah pecel sederhana dengan gorengan menjes atau dadar jagung. Harganya cukup murah..3500  rupiah (sekarang 4000).  Mereka rela menunggu di lorong, gerah karena panas dan susah bernafas karena cukup banyak siswa di situ dan tidak sedikit yang merokok.

Makanan yang disajikan tidak bisa dikatakan sekelas restoran top hasil masakan chef porfesional dan handal. Namun pelayanan dari ibu penjual lah yang membuat nyaman. Maybe that's why it called Pecel Harmoni.. Ada harmoni antara kesederhanaan dan pelayanan yang ramah dan murah senyum dari pemilik warung. 

Seburuk apapun fasilitas atau sikon (situasi dan kondisi) yang dihadapi, ketika ada pelayanan yang ramah dan berusaha untuk tidak menyalahkan keadaan, pasti hasil yang didapatkan mempunyai kepuasan tersendiri. Berlaku untuk pelayanan publik apapun, di manapun, dan kapanpun.

Yaah... semoga manusia bisa menghargai manusia lain layaknya manusia juga.

Januari 09, 2013

Sebatang Rokok

Cukup banyak kisah mengenai pengalaman sahabat saya tentang rokok. Hampir tiap update status facebooknya selalu berkaitan dengan rokok dan dibahasakan dengan kalimat yang puitis.. Ia menganggap sahabatnya adalah sebatang rokok atau mungkin pasangan hidupnya adalah rokok. Sempat saya berpikir sahabatku ini agak sedikit aneh, norak, entahlah..

Kali ini saya harus mengakui bahwa rokok menyimpan sejuta cerita bagi penikmatnya. Ini adalah pengalaman pribadiku tentang rokok. Saya mempunyai seorang sahabat yang membuat saya memahami kebersamaan dibalik rokok. Kami berdua seorganisasi di perhimpunan pers mahasiswa dan perokok aktif.


Tahun lalu, minggu ketiga bulan September 2012 setelah momen musyawarah kerja nasional  yang sangat menguras fisik dan mental, kami duduk bersama dengan teman-teman lain di salah satu warung kopi pinggiran tak jauh dari tempat kami musyawarah. Hari itu aku sudah tidak punya cukup banyak uang untuk menikmati minuman yang menyegarkan seperti es teh atau es jeruk. Di dompektu hanya ada 22.000 rupiah dan pas untuk ongkos bus ekonomi dan bayar sewa penitipan motor yang kutinggalkan di dekat terminal.

Menjelang pulang menuju terminal Purabaya, ia memberikan separuh isi dari bungkus rokok yang baru saja dibelinya dengan korek gas. "Ini separuh buatmu.. buat ngisi waktu nganggur..sama koreknya sekalian. Korekmu ilang to?!" ujarnya.

Sesampainya di terminal ternyata bus ekonomi tujuan Malang sudah tidak ada. Waktu itu sekitar pukul 10 malam dan bus tujuan Malang beroperasi kembali pukul 02:15 WIB untuk Patas dan ekonomi baru ada pukul 03:00 WIB. saya pasrah menunggu di terminal  sambil ditemani satu per satu rokok hingga jam 1 dan tertidur sampai dibangunkan oleh orang disekitar saya.


3 hari yang lalu kesempatanku membalas budi dengan sebungkus rokok dan kuantar hingga ia naik bus dan bus tersebut benar-benar berangkat keluar dari terminal Arjosari.


Saya menyebutnya perspektif persahabatan. Perspektif yang selalu dibuang jauh-jauh oleh perokok pasif (yang ngakunya) pendukung kesehatan. Suatu saat saya yakin merokok dari perspektif persahabatan akan lebih diperhatikan untuk tujuan gerakan yang massive dan positif lepas dari akibat negatifnya. Sampoerna Hijau pernah mengangkat hal tersebut. Iklannya tersirat ada rokok Sampoerna Hijau dibalik persahabatan mereka.

Mungkin sebuah gerakan revolusioner untuk bangsa ini kedepannya diawali dari sebatang rokok...bisa saja..

Januari 07, 2013

Cinta Terhadap Lawan Jenis

Saya kembali membaca buku kecil karangan teman saya yang kukenal sejak SMA lewat situs jejaring sosial Friendster. Judulnya, Cinta Bukan Cokelat. Beliau adalah dosen filsafat di UI. Kalau ada kesempatan untuk bertemu lagi dengannya saya ingin berdiskusi banyak hal tentang cinta yang perlu . Entah bagaimana kabarnya sejak menikah beberapa tahun lalu.

Cukup variatif pernyataan beberapa filsuf di buku itu namun belum menjawab pertanyaan saya tentang perlukah seorang laki laki mencintai perempuan (untuk dijadikan rekan hidupnya).

Kemarin lusa hingga subuh saya berdiskusi dan sempat berdebat dengan dua teman saya mengenai ini berkaca pada biksu, biarawan Katolik dan pengembara, dan lain-lain yang hidup untuk tidak menikah, terlepas dari masalah mereka yang mungkin secara diam-diam pernah jatuh cinta, pernah trauma akan cinta, atau bahkan lesbian atau gay.

Erich Fromm punya pendapat bahwa cinta itu memerdekakan dan suatu pembebasan. Jauh sebelum itu ada pemikiran Plato yang dapat disimpulkan manusia sudah memiliki belahan jiawanya masing-masing. Tidak berbeda dengan mitos Alkitab tentang Hawa yanng diciptakan dari tulang rusuk Adam.
Namun hingga saat ini saya masih berpikir dapatkah manusia mampu menggantikan cinta yang sudah menjadi kodrat manusia untuk saling memiliki antara dua jenis kelamin yang berbeda? Menurutku, mungkin bisa saja ia dapat merekayasanya dengan cinta-cinta yang lain yang setara dengan cinta terhadap lawan jenis.

Lewat pemikiran Plato, dan pernyataan yang menganggu saya maka jadi seperti ini,

A = saya
B = pasangan saya

ibarat A dan B jika disatukan adalah persegi. saya adalah puzzle separuh bidang persegi.. dan B adalah separuhnya.


saya bisa memperoleh B melalui C, D, E, F... C, D, E, F adalah persegi-persegi kecil yang jika digabung menjadi B. C+D+E+F = B. Mungkin C adalah cinta terhadap masyarakat, D kasih sayang sahabat, E kasih sayang orang tua, F lain lain..

A+B = cinta terhadap lawan jenis.

tetapi ditengah diskusi panjang muncul antitesis bahwa cinta terhadap lawan jenis adalah cinta khusus dan berbeda dengan cinta yang lain.

Hingga akhir dialektika sementara, kami hanya mendapatkan sintesis bahwa membiarkan proses itu sendiri yang menjawab akan menjadi seperti apa cintamu itu tumbuh dan berkembang...

Januari 04, 2013

Pesan lewat pasir pantai


gambar ga penting...
memang.
saya gambar ini di pasir pantai..
agak narsis memang..nulis nama sendiri di pasir pantai.
lumayan lah.. dari pada narik garis dan nulis "I love bla bla.." atau " I wuz here"..lebih norak lagi.

menggambar ini mengabiskan waktu 15 menitan dan dua menit setelah kutinggalkan tersapu ombak berbuih..
terima kasih..bukan kepada penguasa laut selatan.. tapi kepada air yang menari bergulung.
 

terima kasih karena salamku sudah disampaikan kepadanya. Hey! Aku memberi salam padamu sambil duduk di pinggir pantai dipagi hari subuh atau saat langit lembayung seperti permintaanmu. Saya masih ingat katanya.. "Laut bukan pemisah daratan,kawan. Ombak ganas tu uluran tangan supaya lu ingat pulang.. dia menari sambil bernyanyi bawa pesan lewat irama hentakan. Kasitau lewat ini sa,do..tulis sa di pasir..sonde nyambung deng lu pung pesan ju sonde jadi soal..air yang jd pnerjemah.. unik to?!" 

hal konyol..stupid thing..
sama sekali ga romantis dan ga keren..umum banget! apanya yang unik?!


biasanya saya menulis kata "hallo" "hey" nama pantai, tanggal saya menulis,...selain nulis nama sendiri..bahkan "SOS" juga pernah.. hehehe..

ritual konyol yang biasa kulakukan tiap menjumpai pantai hampir 6 tahun ini..
Laut lepas bagiku adalah kebebasan.. ombak besar yang bergulung itu layaknya napi yang divonis 50 tahun dipenjara dan baru selesai masa hukumannya..
Langit sorenya lebih indah dari warna pelangi.

Sayangnya, makhluk hidup yang paling unggul di bumi belum bisa sebebas laut lepas. hahaha..

Pages