Kemarin kereta yang saya tumpangi terlambat sampai di stasiun Malang. Pada tiket tertera tiba pukul 9:46 pagi namun terlambat hampir 3 jam. Pukul 12:25 saya baru menginjakkan kaki di stasiun Malang dalam keadaan lapar. Lebih dari 15 jam tidak ada satupun makanan masuk ke mulut saya. Terakhir makanan yang saya konsumsi adalah nasi goreng 5-6 sendok makan serta lauk tambahannya yaitu irisan mentimun dan satu telur mata sapi. Total harga makanan itu Rp. 18.000,00. Cukup menguras dompet namun tidak mengenyangkan bagi saya.
Saya memutuskan makan di Pecel Harmoni setelah melewati gerbang keluar stasiun. Hanya tempat itu saja yang terpikirkan meskipun sepanjang jalan kaki menuju ke sana banyak sekali melewati warung makan. Bahkan salah satunya ada iklan terpampang bertuliskan "Nasi Putih + Sayur Asem Jakarta hanya 2000 saja!". Maaf, kali ini tekad saya tidak mungkin goyah karena tergiur iklan yang menurut saya berbau penipuan. Jangan sampai kejadian "Nasi Goreng 18 ribu" kembali terulang hanya karena gelap mata.
Sesampainya di sana saya disapa dengan senyuman ramah sepasang suami istri pemilik warung. Tanpa basa basi saya letakkan travel bag dan backpack di kursi pojok dan segera memesan nasi pecel,gorengan kecambah dan es teh. Makanan sudah sampai di depan meja langsung saya lahap hingga habis tak tersisa satu butir nasipun di piring. Lalu dengan wajah sedikit "ditekuk" memasang wajah menyambungkan alis kiri dan kanan ...entah apa itu istilahnya..saya memberi isyarat menggunakan tangan dengan maksud menanyakan es teh yang tak kunjung hadir. Minuman itu akhirnya tiba dan melegakan tenggorokan yang sejak tadi mengembang terasa sulit bernafas akibat nasi yang tak kunjung turun ke lambung.
Ibu tua pemilik warung kemudian membuka pembicaraan. "Mas, kenapa? Buru-buru ya? Maaf ya agak lama. Mau ke mana?" Kalimat yang diakhiri pertanyaan itu langsung membuat saya tersadar apa yang telah saya lakukan terhadap orang tua itu. Saya memesan makanan dengan berbicara cepat, tampak gusar menunggu makanan, makan dengan kesan rakus, dan terakhir memesan minuman dengan gaya yang sedikit kasar menurutku terhadapnya.
Saya menjawab, "Mboten,bu.. baru dari Jakarta. Ini saya mau pulang." "Oh, ya pantes.. kok kelihatannya lapar gitu." tanggapnya. Saya hanya merespon dengan senyuman sambil tertawa. Tak lama setelah itu datanglah 3 siswa SMA dan memesan makanan dengan kesan yang tak jauh berbeda dengan saya. Tanggapan ibu itu juga tak berbeda. Senyuman. Hanya senyuman.
Berikanlah kesan pertama yang baik pada saat berkenalan dengan orang lain. Kalimat nasehat tadi menurutku tidak ada salahnya. Namun kita juga perlu memperhatikan feedback setelah mendapatkan kesan pertama. Kebanyakan orang begitu mendapatkan kesan buruk di awal maka akan segera membalas dengan kesan buruk pula meskipun tidak secara langsung ditunjukkan. Belajar dari pengalaman kemarin, pertama, kesan pertama bukanlah penentu atau tolak ukur dari tanggapan yang akan diberikan kepada pemberi kesan. Kedua, apabila mendapat kesan buruk, kurang bijak jika segera menanggapi dengan buruk pula. Lebih baik mencermati dan mencari tahu mengapa ia bisa terkesan buruk.
Tiga siswa SMA tadi masuk dengan keringat yang mengucur dan wajah tampak tidak segar. Sepertinya baru saja mengikuti kelas olahraga atau terjadi sesuatu yang menguras tenaganya. Mungkin itu yang dipikirkan pemilik warung saat melayani mereka bertiga.