Saling berkorban menurutku bukan nilai yang baik. Apa yang sudah diajarkan sejak kecil hingga kini secara tidak langsung mengajarkan manusia pada kesia-siaan. Jika berpikir pragmatis, sikap saling berkorban yang dilaksanakan selalu berujung pada imbalan. Pengorbanan itu punya harga yang "mahal".
Hutang budi. Ya, kata-kata inilah yang selalu muncul dalam perkataan atau minimal dalam pikirannya sendiri ketika manusia memperoleh pertolongan dari orang lain. ".... Terima kasih, pertolonganmu akan selalu kuingat..." atau ".... Hmm..kamu baik sekali mau menolongku. Suatu saat pasti kubalas dengan....." Inilah kesia-siaan yang kumaksud.
Muncul kesimpulan sementara yaitu menolong manusia bukan untuk menyelamatkan namun hanya untuk menambah bebannya kelak. Mungkin saja si penolong membantu dengan tulus ikhlas. Bagi si penerima? Menerima dengan senang hati ketika sangat terdesak namun setelah menerima dan menikmati pertolongannya bisa saja timbul rasa sesal karena berpikir bagaimana membalas pertolongannya. Bersyukurlah ketika si penerima membalas budi dengan keadaannya yang mampu untuk membalas. Apabila tidak mampu?
Alam memberikan hasil buminya dengan oksigen untuk bernafas, tumbuhan dan hewan, hasil tambang dan lain sebagainya. Manusia yang memelihara manusia yang telah dilahirkan dan dbesarkannya dengan uang hasil keringatnya. Guru yang menerima gaji tidak seberapa untuk mencerdaskanmu. Sampah plastik bagi pemulung, Penemu alat musik yang bisa menghidupkan seniman musik bahkan pengamen jalanan. sudahkah kalian membalas budinya? Itu sia-sia,pikirku.
Bagaimana dengan dewa? Menurut salah satu kepercayaan yang menyembah dewa, cara membalas kebaikan dewa adalah dengan selalu memujanya dan memberikan persembahan atau tumbal agar sang dewa hidup kekal dan memberkati manusia. Bagaimana dengan Tuhan? Apabila kalian mempercayai Tuhan itu memang ada. Hal apa yang setara untuk dapat membalasNya? Apakah harus memiliki kuasa yang sama denganNya untuk membalas apa yang sudah dilakukanNya? (berpikir lepas dari dogma agama)
Mereka semua yang kusebutkan diatas mempunyai pengorbanan yang "mahal" dan wajib dibayar. Tuhan sekalipun menuntut manusia untuk menjadi milikNya meskipun telah menjadi tumbal..
Proses dialektika menjadikan manusia lekas terganggu dengan obsesi sesuai keinginan ideal palsunya untuk mencari kepuasan semata yang belum tentu sejati.
Welcome
Kocok kembali otakmu di blog ini.
November 26, 2012
November 08, 2012
Selamat Pagi!
Kita bertemu diderunya air menari dengan hentakannya
menyanyikan lagu apa kabarmu.
Matahari menyengatmu terbakar
tapi tak kering karena peluh.
Perihnya mata ini memerah oleh garam kesakitan
berganti sajian nikmat keluh kesah kita.
Aku belum lelah, sobat
Sejak waktu itu kamu ada bersamaku
dari ujung kusendengkan kepalaku memandang buih putih.
di koral pahatanku yang terlarang
Kemarin lusa dan tahun belum berganti,
aku berselingkuh pada nyamannya pasir
hingga pasang menyeret melenyapkan.
sayup-sayup gelak mendekat
Lembayung tadi sudah berlalu.
mercusuar meréka lagi jejak jumpa.
tidak terhapus pijakanmu, rekanku.
Kuselimuti palma.. hmm..ini penghargaanku.
Pagi ini, batas tanah lembab meramu ukiran asa.kita
Akasia merah muda dan putih sudah berembun
yaah setidaknya bukan kembang berduri laah..
Sahabatku, kelak angin terlampau liar berhembus
nyanyian terdengar sedikit berbeda dari sebelumnya
resonansi musim berikut, menapaklah.
saling menatap bukan meratapi keangkuhan alam ini.
untuk sahabatku...
mari berdebat, bertengkar dan menguatkan lagi seakan kita adalah mahasiswa baru yang suka berbuat bodoh dan konyol dengan idealis kita.
SELAMAT PAGI!!
menyanyikan lagu apa kabarmu.
Matahari menyengatmu terbakar
tapi tak kering karena peluh.
Perihnya mata ini memerah oleh garam kesakitan
berganti sajian nikmat keluh kesah kita.
Aku belum lelah, sobat
Sejak waktu itu kamu ada bersamaku
dari ujung kusendengkan kepalaku memandang buih putih.
di koral pahatanku yang terlarang
Kemarin lusa dan tahun belum berganti,
aku berselingkuh pada nyamannya pasir
hingga pasang menyeret melenyapkan.
sayup-sayup gelak mendekat
Lembayung tadi sudah berlalu.
mercusuar meréka lagi jejak jumpa.
tidak terhapus pijakanmu, rekanku.
Kuselimuti palma.. hmm..ini penghargaanku.
Pagi ini, batas tanah lembab meramu ukiran asa.kita
Akasia merah muda dan putih sudah berembun
yaah setidaknya bukan kembang berduri laah..
Sahabatku, kelak angin terlampau liar berhembus
nyanyian terdengar sedikit berbeda dari sebelumnya
resonansi musim berikut, menapaklah.
saling menatap bukan meratapi keangkuhan alam ini.
untuk sahabatku...
mari berdebat, bertengkar dan menguatkan lagi seakan kita adalah mahasiswa baru yang suka berbuat bodoh dan konyol dengan idealis kita.
SELAMAT PAGI!!
Langganan:
Postingan (Atom)