Saya tidak akan membahas Tuhan dari sudut pandang teologis yang sebenarnya bercampuran dogma. Dogma adalah suatu pernyataan atau ajaran yang harus dibenarkan dan dianggap paling benar dan tidak boleh diragukan. Dogma berhubungan dengan iman. Iman sendiri artinya keyakinan penuh akan Tuhan dan segala kuasaNya. Jadi,bila meragukan dogma maka dianggap berdosa. Terkadang perlu melepas "jubah" agama untuk berpikir dari sisi lain.
Agama-agama besar (dalam kuantitas pemeluk agamanya) yang ada di dunia mengajarkan dogma agamanya melalui Tuhan Sang Penyelamat sebagai subjek yang merestui keyakinannya sebagai keyakinan yang satu-satunya dipilih. Banyak orang ditanamkan doktrin sejak kecil bahwa Tuhan hanya
berpihak pada agama x. Tuhan hanya menyelamatkan manusia yang beragama x
menuju alam kesempurnaan atau biasa disebut surga.
Pada dasarnya agama
adalah produk politik kuno yang masih eksis. Kepentingan agama untuk
menjaga jumlah anggota umatnya sangat dijaga bahkan dibuatkan dogma
seperti, "..agama x lah yang menyelamatkan hidupmu kelak.." atau melalui
tokoh agamanya.. "..kita harus percaya dia adalah yang diutus Tuhan
untuk manusia.." dan lain sebagainya.Bahkan kalimat-kalimat tadi diklaim
itu (entah benar atau tidak) adalah yang diucapkan Tuhan.
Terlepas dari agama masing-masing yang diajarkan.
Pernahkah kita berpikir agama apa yang dibela Tuhan? Sebodoh itu kah
Tuhan sampai memunculkan bermacam-macam agama? Lalu apa tujuanNya
membiarkan hal itu terjadi?
Ada seorang kakek tua hidup di pegunungan daerah perkampungan kabupaten Malang yang tidak percaya Tuhan pernah memberikan sebuah pemikiran dan berkata kepada saya, "Jangan pernah mencari Tuhan! Tuhan juga tidak beragama. Tuhan bukan siapa-siapa. Saya mempercayai Tuhan ketika saya menghargai alam dan manusia karena hidup kita saling bergantung pada alam dan manusia."
Pernyataan yang sederhana dari kakek itu membuat saya sempat tertawa karena sempat sejenak berpikir, seandainya semua masyarakat Indonesia mempunyai pemikiran yang sama dan mau menerapkan hal itu, tentunya Indonesia bebas dari masalah fanatik dan konflik antar agama yang sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa.
Perlu dicermati kembali, sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa dan bukan Tuhan Yang Maha Esa. Ketuhanan berarti mengarah ke sifat. Kalau agama meyakini Tuhan itu Maha baik, maka lakukanlah kebaikan, jika Tuhan itu Maha Pemurah, murah hatilah terhadap sesama manusia dan lain sebagainya. SifatNya lah yang Esa. Tidak peduli bagaimanapun konsep Tuhan yang saling berbeda tiap agama dan kepercayaan yang dianut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar