Welcome

Kocok kembali otakmu di blog ini.

Mei 30, 2014

Korban Parade

Aksi tawuran yang terjadi beberapa hari lalu di kota Malang banyak menimbulkan kejanggalan dengan tanda tanya dan seru besar.

Berita yang tidak berimbang.
Dalam surat kabar tidak ada narasumber yang berasal dari perwakilan masing-masing pihak yang berkonflik. Anehnya justru pejabat pemerintahan yang dimintai pendapat.

Aksi dari kepolisian yang berlebihan.
Jumlah anggota kepolisian yang berpatroli lebih banyak dibandingkan massa yang diduga akan melancarkan aksi balas dendam. Patroli layaknya tidak melebihi 20 orang dan kendaraan yang digunakan bukanlah truk lebih dari 2 buah. Cukup 2 hingga 3 unit mobil patroli. Perlu diketahui pula, mahasiswa asal maluku dan sumba sendiri tidak mempunyai kesatuan di daerahnya masing-masing. Ambil contoh daerah Tual akan peduli hanya sesama Tual, Sumba barat akan peduli dengan Sumba barat dan lain-lain.
Ditambah lagi polisi dilengkapi dengan senjata laras panjang. Biasanya senjata polisi yang digunakan untuk mengatasi huru hara hanya diberi perlengkapan tameng dan pemukul. Apabila semakin ricuh maka dibantu dengan mobil water cannon.

Tidak ada salahnya apabila dikaitkan dengan kepentingan politik menuju pilpres yang memberikan kesan kepada masyarakat kota Malang mendambakan sosok pemimpin yang tegas dan mampu menumpas rasa ketidaknyamanan di daerah mereka.

Analisis dangkal ini cukup dipikirkan kembali. Efek pasca kejadian kemarin tidak hanya berpengaruh pada mahasiswa maluku dan sumba. Mahasiswa asal Indonesia bagian timur pasti kena imbasnya. Rasa ketidakpercayaan masyarakat penyedia kos juga mulai bersitgma negatif terhadap mahasiswa asal Indonesia bagian timur.

Tidak ada komentar:

Pages