Welcome

Kocok kembali otakmu di blog ini.

Januari 10, 2013

Menghirup nafas dibalik lorong sempit

                                            (mohon dimaklumi kamera HP yang saya gunakan dibawah standar kekinian)

bagi teman2 STETSA, SMA3, dan SMA1 Malang yang suka berkeliling mencari makan yang murah pasti tidak asing dengan foto yang ku-upload.
 

Pecel Harmoni (PH)..entah siapa yang memberi nama ini. Bulan Desember lalu saya menghampiri tempat ini sekedar untuk bernostalgia. Tidak banyak perubahan sejak pertama kali saya mengenal tempat ini.
Perubahan yang terlihat jelas adalah ibu itu telah berkacamata. Suami yang biasa mendampinginya tidak nampak saat saya ke sana.

Masih terekam di otak saya... tiap pukul 9 pagi , ia bersama suaminya berjalan berdua menjinjing tas berisi bahan makanan dan menuju warung kecilnya di lorong sempit.

Pada saat pukul 1 siang, banyak siswa datang dan tidak sedikit yang berdiri atau duduk di lorong. Makanan  yang menjadi favorit mereka tidak lain tidak bukan adalah pecel sederhana dengan gorengan menjes atau dadar jagung. Harganya cukup murah..3500  rupiah (sekarang 4000).  Mereka rela menunggu di lorong, gerah karena panas dan susah bernafas karena cukup banyak siswa di situ dan tidak sedikit yang merokok.

Makanan yang disajikan tidak bisa dikatakan sekelas restoran top hasil masakan chef porfesional dan handal. Namun pelayanan dari ibu penjual lah yang membuat nyaman. Maybe that's why it called Pecel Harmoni.. Ada harmoni antara kesederhanaan dan pelayanan yang ramah dan murah senyum dari pemilik warung. 

Seburuk apapun fasilitas atau sikon (situasi dan kondisi) yang dihadapi, ketika ada pelayanan yang ramah dan berusaha untuk tidak menyalahkan keadaan, pasti hasil yang didapatkan mempunyai kepuasan tersendiri. Berlaku untuk pelayanan publik apapun, di manapun, dan kapanpun.

Yaah... semoga manusia bisa menghargai manusia lain layaknya manusia juga.

Tidak ada komentar:

Pages